Kali ini bukan tentang keburukan sinetron dan infotainment yang setiap saat menggunjing. Bukan juga tentang acara hiburan hura-hura yang mencampurkan musik, artis penzina, artis pemabuk dan ustad dalam satu panggung yang sama. Kali ini aku akan membahas soal dampak negatif penyiaran berita di televisi.
Aku kira kita semua sepakat bahwa berita adalah acara paling putih dan bebas nilai dari semua acara lainnya di televisi. Itu sebabnya kita semua tidak menyangka pada akhirnya acara berita juga harus dikritik oleh kritikus kenamaan, Habib Asyrafy.
Ya, aku benci semua acara di televisi, tak terkecuali berita. Tidak semua jenis berita sih. Aku tidak membenci berita olahraga, bisnis dan politik. Tapi satu jenis berita saja sudah cukup bagiku untuk menghakimi seluruh acara berita. Dan itu adalah berita kriminal.
Aku benci setiap kali tv menyiarkan berita tentang pencurian, perampokan dan pemerkosaan. Kemarin, seorang ayah mencuri karena terlilit hutang. Hari ini, seorang anak muda merampok karena kesulitan mencari kerja. Besok, seorang kakek memerkosa anak tetangganya. Uiihh sungguh jijik aku mendengarnya. Bukan hanya karena aku membenci pelaku dan tindakan yang ia lakukan tapi juga karena televisi yang senantiasa menyiarkannya. Untuk apa sih itu semua disiarkan?
Protesku yang agak sedikit berbeda dengan protes orang-orang menimbulkan banyak pertanyaan dari mereka yang berada di sekitarku. Mereka bertanya, “Mengapa kamu menyalahkan penyiaran berita kriminalnya Bib? Bukankah berita kriminal membuat kita jadi lebih tahu keadaan sekitar? Bukankah berita kriminal membuat kita lebih awas?” Mereka terus saja mencoba meyakinkanku bahwa berita kriminal memang perlu disiarkan di televisi tanpa mengerti mengapa aku membencinya.
Untuk menjelaskan mengapa aku begitu membenci penyiaran berita kriminal, aku akan menanyakan dua pertanyaan kepada kalian.
APA ITU MEMBANTU PENCEGAHAN?
Sebelum mengatakan atau melakukan sesuatu adalah sangat wajar jika kita bertanya apakah hal tersebut bermanfaat atau tidak. Sekarang kita bertanya, apakah penyiaran berita kriminal akan berdampak baik dalam membantu pencegahan penyebaran kejahatan tersebut?
Awalnya mungkin kamu akan menjawab ya. Kamu sangat yakin jika kita mengetahui keadaan di sekitar kita mulai tidak aman, kita akan lebih waspada dan hati-hati terhadap segala kemungkinan kejahatan. Padahal? Itu tidak begitu berpengaruh bung!
Justru keadaannya malah bertambah parah. Katakanlah ada 100 orang kakek yang kelaparan di bumi Indonesia kita tercinta ini. Walaupun lapar sekali tak satu pun dari kakek-kakek ini tergoda untuk mencuri sampai suatu ketika mereka semua nonton berita di televisi tentang seorang kakek yang mencuri karena kelaparan. Tiba-tiba saja mereka merasa punya teman. Mereka jadi merasa, “Bukan hanya aku yang merasa seperti ini di dunia ini.” Pikiran seperti akan menjalar pada pikiran berikutnya, “Jika seorang kakek di luar sana sampai mencuri karena ia mengalami apa yang juga kualami ini, maka pasti keadaan ini sudah terlalu parah. Orang-orang tidak bisa menyalahkanku jika aku mencuri karena aku juga kelaparan sama sepertinya. Aku punya perut yang harus diisi dan tagihan yang harus dibayar, aku terpaksa.”
Efek seperti itu disebut efek konsensus. Konsensus adalah satu dari lima yang mempengaruhi tindakan seseorang. Saat seseorang merasa tidak sendiri, ia cenderung lebih mudah untuk melakukan sesuatu. Kamu yang pelajar mungkin pernah merasakan efek konsensus ini ketika kalian menemukan banyak diantara teman kalian yang juga tidak mengerjakan PR. Saat mengetahui ada banyak yang juga tidak mengerjakan PR, tiba-tiba kalian tidak merasa deg-degan lagi. Bahkan kalian tidak malu lagi saat di-strap di depan kelas (karena rame-rame).
Efek konsensus ini pun belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan tutorial kejahatan yang biasa diberikan Berita Investigasi. Berita kriminal di televisi sering kali melakukan rekonstruksi ulang kejadian atau wawancara langsung dengan si pelaku tentang caranya melakukan kejahatan itu. Ini jauh lebih buruk lagi. Sama buruknya dengan pendidikan kriminal yang terjadi di penjara.
Awalnya mungkin kamu akan menjawab ya. Kamu sangat yakin jika kita mengetahui keadaan di sekitar kita mulai tidak aman, kita akan lebih waspada dan hati-hati terhadap segala kemungkinan kejahatan. Padahal? Itu tidak begitu berpengaruh bung!
Justru keadaannya malah bertambah parah. Katakanlah ada 100 orang kakek yang kelaparan di bumi Indonesia kita tercinta ini. Walaupun lapar sekali tak satu pun dari kakek-kakek ini tergoda untuk mencuri sampai suatu ketika mereka semua nonton berita di televisi tentang seorang kakek yang mencuri karena kelaparan. Tiba-tiba saja mereka merasa punya teman. Mereka jadi merasa, “Bukan hanya aku yang merasa seperti ini di dunia ini.” Pikiran seperti akan menjalar pada pikiran berikutnya, “Jika seorang kakek di luar sana sampai mencuri karena ia mengalami apa yang juga kualami ini, maka pasti keadaan ini sudah terlalu parah. Orang-orang tidak bisa menyalahkanku jika aku mencuri karena aku juga kelaparan sama sepertinya. Aku punya perut yang harus diisi dan tagihan yang harus dibayar, aku terpaksa.”
Efek seperti itu disebut efek konsensus. Konsensus adalah satu dari lima yang mempengaruhi tindakan seseorang. Saat seseorang merasa tidak sendiri, ia cenderung lebih mudah untuk melakukan sesuatu. Kamu yang pelajar mungkin pernah merasakan efek konsensus ini ketika kalian menemukan banyak diantara teman kalian yang juga tidak mengerjakan PR. Saat mengetahui ada banyak yang juga tidak mengerjakan PR, tiba-tiba kalian tidak merasa deg-degan lagi. Bahkan kalian tidak malu lagi saat di-strap di depan kelas (karena rame-rame).
Efek konsensus ini pun belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan tutorial kejahatan yang biasa diberikan Berita Investigasi. Berita kriminal di televisi sering kali melakukan rekonstruksi ulang kejadian atau wawancara langsung dengan si pelaku tentang caranya melakukan kejahatan itu. Ini jauh lebih buruk lagi. Sama buruknya dengan pendidikan kriminal yang terjadi di penjara.
Kalau tidak percaya, coba lihat lagi berita di televisi. Bukankah sekarang ini jauh lebih sering terdengar kasus tentang seorang ibu yang membuang anaknya? Coba pikir lagi, kira-kira kenapa para ibu ini tidak lagi punya perasaan? Kira-kira kenapa mereka tidak lagi malu pada diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan keji itu? Bukankah itu karena mereka tahu bukan hanya mereka yang pernah melakukannya. Sudah banyak kejadian seperti itu terjadi di televisi.
APA ITU MENGGAMBARKAN KEADAAN SEKITAR?
Pasti banyak yang gak ngerti pertanyaanku kan? Gini lho maksudnya. Tadi kan kalian bilang, berita kriminal itu perlu disiarkan supaya kita lebih waspada. Kalian pasti bicara begitu karena kalian yakin apa yang disiarkan di televisi adalah apa yang terjadi di dunia nyata. Jika hari ini berita bilang banyak pencurian maka pasti negeri ini sedang banyak pencurinya. Jika hari ini tidak ada berita pencurian maka pasti negeri ini sedang kosong kasus pencurian. Hayoo, mengaku sajalah, kalian penonton televisi awam pasti meyakininya seperti itu.
Biar aku bocorkan sebuah rahasia ya. Apa yang kalian lihat di televisi tidak menggambarkan apa pun di dunia nyata lho! Setidaknya tidak semuanya. Ada begitu banyak yang terlibat di balik layar yang mempengaruhi hasil akhir yang kamu lihat di depan layar.
- Apa kamu pikir TVONE akan mau menyiarkan tentang kejelekan-kejelekan Abu Rizal Bakrie? Haha tidak mungkin kan? Wong dia yang punya kok.
- Apa kamu pikir orang-orang nonmuslim pemilik channel televisi mau membuat acara-acara Ustad beneran seperti Quraisy Shihab di prime time? Kalau ustad boong-boongan sih mungkin iya.
Ada terlalu banyak kepentingan yang bermain di balik sebuah kotak kaca yang paling kamu percaya itu. Setelah mengetahui itu semua, aku harap kamu bisa cukup mengerti bahwa berita pemerkosaan tidak hanya muncul karena ada atau tidaknya kejadian tersebut di dunia nyata tapi juga karena keinginan media untuk menyebarkannya.
Ada sebuah koran di Medan bernama Harian Orbit. Sama seperti mereka, aku berkeyakinan bahwa berita asusila seperti pemerkosaan tidak perlu disiarkan. Seperti yang kujelaskan sebelumnya, berita seperti itu hanya akan mengedukasi calon penjahat berikutnya tentang bagaimana step by step melakukan kejahatan tersebut.
Kalau mereka mau, tentu saja Harian Orbit punya berita pemerkosaan untuk diterbitkan setiap harinya. Satu-satunya alasan mereka tidak memuat berita seperti itu di korannya adalah karena mereka tidak ingin memuatnya (bukan karena pemerkosaan itu tidak terjadi).
Kalau tidak percaya mari coba hitung bersamaku. Di Indonesia saja ada sekitar 200 juta orang. Andai kata tiap tahunnya ada 0,001% saja penjahat yang melakukan pemerkosaan. Maka kita akan punya 2000 kasus tiap tahunnya atau sekitar 5 kasus setiap harinya. (Kita belum menghitung kalau-kalau mereka melakukannya lebih dari sekali)
Dari perhitungan diatas seharusnya kita sadar bahwa KEJAHATAN AKAN SELALU ADA. Dengan pahit harus aku katakan, di suatu tempat di belahan dunia ini ada orang-orang yang sedang makan saat mobilnya dicuri, ada orang-orang yang sedang menangis gemetaran karena baru saja dirampok, dan ada sedang yang menjerit kesakitan yang tak menyangka teman facebooknya tega melakukannya.
Jadi kurasa sekarang kalian sudah mengerti bahwa kejahatan seperti itu tak perlu disiarkan. Bukannya kita bermaksud untuk pura-pura tidak tahu. Kalau negara ini memang tidak peduli dengan moral bangsa atau setidaknya tidak cukup pintar untuk mencegah berita kriminal seperti ini menyebar, setidaknya jangan sampai kita ikut menonton atau membacanya. Biarlah uwak-uwak di kedai kopi yang sudah mau meninggal itu saja yang membaca koran-koran mesum seperti, Lampu Merah dan Metro48. Kita jangan ikut-ikutan bodoh.
TUTUPILAH AIB SAUDARAMU
Aku tahu agak sulit menjelaskan bagian ini pada kalian yang tidak begitu mengerti hukum agama tapi aku akan mencobanya. Ada sebuah cerita yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.
Waktu itu beliau kedatangan seorang yang berlari-lari dan melapor, "Wahai Amirul Mukminin, tadi disana aku melihat si fulan sedang berpelukan dengan yang bukan muhrimnya dibawah pohon kurma." Umar langsung ngucap, terus dia nanya, "Kenapa tidak kau tutupi mereka?" Barang siapa yang menutupi aib saudaranya sesungguhnya Allah akan menutupi aibnya di hari Kiamat.
Kejadian ini memberi kita sebuah wawasan baru. Bahwa Umar ibn Khattab sendiri tidak suka berita kemaksiatan tersebar. Jika si pelapor tidak mampu menghadirkan empat orang saksi untuk menghukum si maksiat tersebut sungguh tidak ada gunanya menyebarkan berita tersebut ke masyarakat. Penahanan berita maksiat tersebut tidak hanya bertujuan untuk menyelamatkan si yang empunya aib tapi juga menyelamatkan masyarakat agar tak menganggap keburukan adalah hal yang biasa terjadi. Wallahu a'lam
Waduh.. ceramahku kepanjangan ya? Sebenarnya berita kriminal masih boleh kok disiarkan hanya saja cara penyiarannya ...
HARUS DIPERBAIKI
Terlalu banyak ilusi di televisi yang harus diperbaiki. Televisi punya begitu banyak cara untuk membuat yang baik terlihat buruk dan membuat yang buruk terlihat baik. Seperti Dajjal yang mampu membuat api terlihat seperti air dan sebaliknya, TV sangat pandai membuat Aa Gym yang dengan halal melakukan poligami terlihat buruk dan membuat perempuan yang pakai rok mini yang haram sebagai sesuatu yang terlihat asasi. Begitu pula dengan penyiaran berita kriminal ini.
Harusnya berita kriminal tidak perlu menampilkan reka ulang kejadian dan mengajarkan pada calon pelaku berikutnya step by step tentang bagaimana melakukan kejahatan tersebut. Harusnya berita kriminal tidak menampilkan sisi sosial kehidupan mereka di keluarga dan masyarakat dan membuat pelaku seolah perlu dibela dan dikasihani. Proses hukumnya juga tidak perlu. Satu-satunya yang perlu disiarkan adalah betapa beratnya hukuman yang akan diterimanya karena kejahatan yang ia lakukan.
Nabi saja menyuruh kita menyaksikan hukuman rajam. Kejam dan sadis memang, tapi jika kamu beriman seperti aku, percayalah bahwa Tuhan telah menetapkan aturan terbaik untuk itu. Dan aku juga percaya bahwa hukuman seperti itulah yang bisa memberi efek malu dan jera yang luarbiasa pada si pelaku sekaligus efek preventif (pencegahan) yang cukup kuat yang membuat penontonnya takut untuk mengikuti jejak si pelaku.
Masyarakat cukup diberitahu bahwa si A harus membayar diyat 100 ekor Unta senilai 21 milyar karena membunuh. Tunjukkan saja tangannya yang buntung karena mencuri. Tunjukkan saja betapa jeleknya wajah koruptor itu dibalik jeruji karena uang yang mereka ambil itu.
Aku yakin dengan begitu pesannya akan lebih mengena dan sampai ke dalam benak masyarakat.
Jadi mari tinggalkan berita-berita edukasi kejahatan yang disiarkan media yang tak peduli pada moral masyarakat. Mari matikan, hancurkan dan tinggalkan televisi karena Televisi Tidak Punya Sisi Positif Sama Sekali [link]







0 komentar:
Posting Komentar