REZIM media
merupakan sebutan atas semakin berdaulatnya media, terutama televisi dalam
menyiarkan informasi seputar poleksosbudhankam. Hal ini muncul karena alam
kebebasan yang tanpa batas. Sehingga menyebabkan tranformasi media menjadi
sebuah industri guna mengeruk keuntungan, yang berimbas pada pengabaian akan
kepentingan publik untuk memperoleh informasi yang bermutu. Rezim media tak
melulu dipimpin oleh politisi sebagai corongnya, juga termasuk pengusaha
yang ingin memperluas eksistensi bisnisnya di bidang media.
Sejumlah
negara berkembang seperti Thailand dan Malaysia dapat dirujuk untuk menunjukkan
adanya praktik penggunaan media oleh penguasa setempat. Sedangkan, di Indonesia
hal ini pernah berlaku pada era Soeharto. Dimana majalah seperti Tempo,
Tabloid deTIK, dan Editor dicabut SIUPP-nya (Surat Izin Usaha Penerbitan
Pers) oleh Departemen Penerangan dengan beragam dalih. Namun yang pasti,
Pemerintah kala itu risih dengan sikap kritis yang dibawakan media di atas.
Sekarang,
hal demikian memang tidak terjadi lagi. Namun, hingar-bingar hegemoni media
sebagai corong politik begitu kentara terasa. Apalagi, pemilik media tersebut
berkoalisi dengan penguasa.
Salah
satu bukti terbaik lainnya, bahwa kita hidup ditengah hegemoni rezim media
adalah media turut berperan dalam menentukan haluan arah hidup kita.
Contohnya: Penggambaran wanita cantik ialah yang berkulit bening, bertubuh
sintal dan dengan rambut yang tergerai. Lucunya, kita pun mengamini hal
tersebut. Sehingga, klop sudah kita ibarat kerbau yang dicucuki hidungnya
tanpa pernah sadar.
Atau
seperti muatan gosip para selebritis yang terlalu dibesar-besarkan (exegerasi).
Juga muatan kekerasan yang masuk ke layar kaca, dan tentu berdampak negatif
pada tumbuh kembang serta pola pikir anak-anak kita. Bahkan, pada acara yang
bersifat menghibur sekalipun seperti humor, komedi atau lawakan, unsur-unsur
kekerasan kerap menjadi bahan tertawaan.
Muatan-muatan
seperti ini membuktikan, bahwa media sekarang ini lebih mendahulukan
kepentingan bisnisnya ketimbang kepentingan publik, yang berdampak pada penyeragaman
isi siaran. Logically, media lain akan meniru program/tayangan media tetangganya
yang lebih diminati pemirsa. Tentu, dengan beragam modifikasi di sana sini.
Maka
daripada itu, pendidikan media menjadi tameng yang diwajibkan untuk menahan
gempuran rezim media sekarang ini. Jangan sampai masyarakat menganggap hal-hal
tersebut di atas sebagai suatu hal yang normal dan sah-sah saja. Jangan sampai
masyarakat terkungkung dalam doxa (suatu kondisi dimana masyarakat tidak
sadar telah ditindas segi-segi kehidupannya). Jangan sampai kebebasan
berbicara, menyampaikan pendapat, serta kebebasan memperoleh informasi
menjadi legitimasi bagi mereka untuk melanggengkan berkuasanya rezim media.
Penguatan Lembaga KPI
Selain
itu, amat sangat disayangkan, jika KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) hanya
menjadi co-regulation atau pendamping setia pemerintah, dalam hal mengatur
jalannya industri penyiaran. Padahal, sudah seyogyanya KPI kembali bersifat
independen dan progresif dalam menentukan, mana tayangan yang layak dan tak
layak untuk dikonsumsi pemirsa tanah air.
Sebab,
rezim yang kita hadapi ini tidaklah memaksakan kehendaknya melalui kekuatan
impresif dengan memanfaatkan aparatur negara. Melainkan, dengan cara yang
seolah demokratis lewat pembentukan public opinion (opini publik).
Mendamba TV yang Netral
Relasi
antara televisi dan masyarakat lokal bukan lagi sekadar hubungan media
massa dan publik. Tetapi sudah menjadi hubungan antara produsen dan konsumen,
atau sebagai corong politik kepada para pendukungnya.
Tampaknya,
pemilihan NET sebagai stasiun yang menyiarkan Debat Pilgub DKI session 2, karena melihat televisi ini sebagai salah satu
dari sekian banyak televisi yang netral dalam porsi pemberitaan setiap
paslon. Perlu didukung!
Sebab
media sebagai sebuah lembaga memiliki kewajiban untuk menyajikan program yang well information kepada publik. Artinya, masyarakat harus memiliki
informasi yang memadai dalam menentukan pilihannya nanti. Jadi, media massa
bertanggung jawab memberikan informasi tentang para Paslon (pasangan calon)
dari sisi yang paling objektif.
No-Gosip
Selain
itu, pemberitaan seputar infotainment berbau sensasional dan merujuk kepada perilaku hidup
yang tidak baik, seperti: gaya hidup yang hedonis, dramatisasi kehidupan, dan
pesan-pesan yang tidak baik lainnya. Sudah sepatutnya tidak lagi mendapatkan
tempat di hati pemirsa, yang haus akan hiburan. Maka pemilihan terhadap
tayangan hiburan yang no-gosip dapat menjadi alternatif.
Semoga
hal semacam ini dapat meredam media sebagai sarana penyebar informasi menjadi
sarang jual-beli, yang tak lagi memerhatikan kualitas sajiannya.
Masyarakat
kita juga harus dilatih responsif, agar hiburannya tak dianggap dangkal dan
murah oleh para produsen media.
Walhasil,
masyarakat selain daripada memiliki hak untuk memperoleh informasi dan
hiburan. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mengonsumsinya secara
kritis, bukan menelannya secara mentah-mentah. ***







0 komentar:
Posting Komentar