Review, rekomendasi dan kritik film bermutu.

Selasa, 09 Mei 2017

Awas, Banyak Copet; Sederhana, Pesan Moral, Segar.

 Jadi, kali ini kita akan bahas RCTI. Stasiun tivi yang menurut penulis yang sok kejam ini adalah stasiun tivi yang ngepop abis. Iya, menjadi pop di dalam sebuah lingkungan tidak pernah salah. Tapi, di jaman sekarang, sepertinya mencoba meluaskan zona nyaman adalah hal terbaik, karena kalau tidak, kemungkinan untuk dihancurkan gaya baru amat tinggi.

Oke, kali ini kita akan coba membahas salah satu sinetron dari RCTI. Taraaa... Awas Banyak Copet.

Apaan sih? Kan dari judulnya udah dikasih tahu. Aneh nih penulisnya.

Jadi, Awas Banyak Copet adalah sinetron yang masih fresh di RCTI. Nah, sebenarnya Awas Banyak Copet bisa dibilang spin off dari sinetron RCTI sebelumnya yang cukup sukses, yaitu Preman Pensiun.

Preman Pensiun sebenarnya cukup sukses di pasaran waktu itu. Dengan pemeran-pemeran hebat, Epy Kusnandar, Alm. Didi Petet, Mat Drajat. Dengan semua kelucuan yang diambil dari banyak sudut. Dengan kesederhanaan cerita berlatar Bandung. Dengan gebrakan baru di sinetron indonesia pada masa itu.

Kalau ada yang nanya, apakah penulis suka sinetron Preman Pensiun? Lagi, kalau ada yang nanya, maka jawabannya suka. Tapi, jujur gak terlalu mengikuti kisahnya setiap episode.

Awas Banyak Copet mengambil cerita soal kehidupan para pencopet di Bandung. Sekolah pencopet, aksi para pencopet, kehidupan para pencopet, mantan pencopet, dan semua seluk beluk dunia percopetan.

Oop. Tunggu dulu! Sebelum itu, tahu gak apa kepanjangan copet? Dari yang penulis tonton, copet itu kepanjangan dari comot dompet.

Bermodalkan cerita copet itu, sinetron ini dikemas dengan tempo yang cenderung lambat, bahkan terkesan datar. Kelucuan bisa datang dari mana saja. Ada banyak scene-scene pendamping yang menambah kesan sinetron ini.

Terus, kenapa penulis menyebut ini sinetron sederhana?

Jawabannya ya sederhana. Hahahahaha....
.
Itu lagi becanda. Jawabannya karena ini dikemas dengan musik sederhana, sinematografi sederhana, kehidupan orang-orang sederhana, dan dikemas dalam sederhana.
.
Sebenarnya, mwmbahas kenapa disebut sederhana agak rumit, supaya gamblang, coba pantengin sinetron ini, paling tidak satu episode, dan kawan-kawan akan paham kenapa sinetron ini sederhana.
.
Selain sederhana, sintron ini penulis beri label 'berpesan moral'.
.
Ada banyak hal-hal kecil, pesan-pesan sederhana yang ditampilkan dalam sinetron ini, penulis akan coba tuangkan dalam satu contoh scene yang ada dalam sinetron ini. Oke? Siap ya?
.
Pertama, scene dibuka dengan adegan seorang tukang becak dayung tidur di becaknya sembari menunggu pelanggan di siang hari di pinggir jalan. Lagi tidur nyenyak, seorang pelanggan datang ingin naik becak, pengayuh yang tidur tadi gak bisa dibangunin, tidurnya nyenyak sekali. Tiba-tiba, lewat sebuah becak lain yang kosong, lalu si ibu pun akhirnya naik becak yang baru lewat ini.
.
Berapa lama, scene diulang seperti itu lagi. Sesudahnya, tukang becak yang tidur tadi terbangun, gak berapa lama temannya sesama tukang becak parkir di sebelah becaknya. Tukang becak yang tidur tadi mengeluh, " Siang ini sepi ya. Gak ada pelanggan."

Dengan scene sederhana itu, sinetron ini menyampaikan pesan sederhana. Ini keren.

Sinetron ini juga cukup segar. Bayangkan kalau anda lelah menonton sinetron-sinetron alay lain, menonton kelucuan-kelucuan segar dalam sinetron ini.

Dengan ini, penulis bisa bilang bahwa Awas Banyak Copet merupakan salah satu sinetron layak tonton. Sekali lagi, ada banyak tontonan yang tidak layak tonton. Hahahahahahaha....

Ini ketawanya gitu amat yak?

Okelah, sebagai kalimat terakhir di tulisan panjang yang njelimet ini, penulis amatiran banyak omong ini akan mengingatkan kawan-kawan semuanya, bahwa apa yang kita tonton berpengaruh pada diri kita. Tonton yang baik-baik.
Share:

MEDIA DAN KINERJA POLRI

Ada banyak masyarakat yang meyakini, bahwa media adalah pilar ke-empat dalam alam berdemokrasi, setelah peran eksekutif, legislatif dan juga yudikatif. Ada banyak pula dari masyarakat kita yang meyakini, bahwa media telah menciptakan sistem pemerintahan kita yang penuh dengan transparansi. Lagipun, media memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan informasi yang akurat dan terpercaya, sekaligus terhindar dari bahayanya pemberitaan hoax yang dapat memecah belah kesatuan bangsa.
Baru-baru ini, Polri memberikan penghargaan kepada sejumlah media di tanah air. penghargaan tersebut diberikan karena kontribusi media tersebut dalam membantu Korps Bhayangkara mengemban tugas melayani dan melindungi masyarakat. Juga sebagaimana yang dikutip dari NTMCPOLRI, bahwa penghargaan ikut diberikan kepada sejumlah Kabid Humas Polda se-Indonesia. Acara pemberian penghargaan itu digelar di Rupatama, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/3/2017). Penghargaan itu diberikan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Adapun media yang memperoleh penghargaan tersebut ialah: LKBN ANTARA. Kategori televisi: tvOne, Metro TV, Kompas TV, INews TV, CNN, TVRI, JakTV, Tribata  TV, Liputan6. Kategori media cetak: Media Indonesia, Harian Pos Kota, Kompas dan Republika. Kategori radio: Elshinta, RRI dan Sonora FM dan terakhir  Detik.com yang menjadi medi daring satu-satunya yang mendapat penghargaan.

Beberapa media ini dinilai oleh Polri telah berusaha menyebarkan informasi bagaimana kinerja Polri yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Sebab selama ini citra kepolisian sempat runtuh di mata masyarakat, dan media memiliki kekuatan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada kinerja kepolisian yang bersih dan bermartabat. Namun, tentu masyarakat sangat tidak ingin citra baik kepolisian itu hanya muncul di layar kaca saja. Oleh karena itu, Polri memang perlu meningkatkan profesionalisme anggotanya dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Sehingga, apa yang dimunculkan media terkait kinerja Polri bukan sekedar konstruksi yang penuh dengan realitas semu (pseudo event). Terakhir, semoga momentum kerjasama antara Polri dan sejumlah media ini, tidak menghilangkan daya kritis media dalam memberitakan kinerja mereka demi azas kemanfaatan bersama.  
Share:

Senin, 08 Mei 2017

Rezim Media

REZIM media merupakan sebut­an atas semakin berdaulat­nya media, ter­utama televisi dalam menyiarkan in­formasi se­putar polek­sos­budhan­kam. Hal ini muncul karena alam ke­bebasan yang tanpa batas. Sehingga me­nyebabkan tranformasi media men­jadi sebuah industri guna menge­ruk keuntungan, yang berimbas pada pe­ngabaian akan kepentingan publik un­tuk memperoleh informasi yang ber­­mutu. Rezim media tak melulu di­pim­pin oleh politisi sebagai corong­nya, juga termasuk peng­usaha yang ingin memperluas eksistensi bisnis­nya di bidang media.
Sejumlah negara berkembang seperti Thailand dan Malaysia dapat dirujuk untuk menunjukkan adanya prak­tik penggunaan media oleh pe­nguasa setempat. Sedangkan, di In­donesia hal ini pernah berlaku pada era Soeharto. Dimana majalah seperti Tem­­po, Tabloid deTIK, dan Editor di­cabut SIUPP-nya (Surat Izin Usaha Pe­­nerbitan Pers) oleh Departemen Pe­nerangan dengan beragam dalih. Na­mun yang pasti, Pemerintah kala itu risih dengan sikap kritis yang di­bawakan media di atas.
Sekarang, hal demikian memang tidak terjadi lagi. Namun, hingar-bi­ngar hegemoni media sebagai corong po­litik begitu kentara terasa. Apalagi, pemilik media tersebut berkoalisi de­ngan penguasa.
Salah satu bukti terbaik lainnya, bahwa kita hidup ditengah hegemoni rezim media adalah media turut berpe­ran dalam menentukan haluan arah hidup kita. Contohnya: Peng­gam­bar­an wanita cantik ialah yang ber­kulit bening, bertubuh sintal dan dengan rambut yang tergerai. Lucu­nya, kita pun meng­amini hal tersebut. Se­hingga, klop sudah kita ibarat ker­bau yang dicucuki hidungnya tanpa pernah sadar.
Atau seperti muatan gosip para se­lebritis yang terlalu dibesar-besar­kan (exe­gerasi). Juga muatan kekeras­an yang masuk ke layar kaca, dan tentu ber­dampak negatif pada tumbuh kem­bang serta pola pikir anak-anak kita. Bah­kan, pada acara yang bersifat meng­hibur sekalipun seperti humor, ko­medi atau lawakan, unsur-unsur ke­ke­rasan kerap menjadi bahan tertawaan.
Muatan-muatan seperti ini mem­buk­ti­kan, bahwa media sekarang ini lebih mendahulukan kepentingan bis­nisnya ketimbang kepentingan pu­blik, yang berdampak pada pe­nye­ra­ga­man isi siaran. Logically, media lain akan meniru program/tayangan media te­tangganya yang lebih diminati pe­mirsa. Tentu, dengan beragam mo­di­fikasi di sana sini.
Maka daripada itu, pendidikan media menjadi tameng yang diwajib­kan untuk menahan gempuran rezim media sekarang ini. Jangan sampai ma­syarakat menganggap hal-hal ter­sebut di atas sebagai suatu hal yang nor­mal dan sah-sah saja. Jangan sam­pai masyarakat terkungkung dalam doxa (suatu kondisi dimana ma­sya­rakat tidak sadar telah ditindas segi-segi kehidupannya). Jangan sam­pai kebebasan berbicara, me­nyam­pai­kan pendapat, serta kebebasan mem­per­oleh informasi menjadi legitimasi bagi mereka untuk melanggengkan be­rkuasanya rezim media.
Penguatan Lembaga KPI
Selain itu, amat sangat disayang­kan, jika KPI (Komisi Pe­nyiaran In­do­nesia) hanya menjadi co-regula­tion atau pen­damping setia pemerin­tah, dalam hal mengatur jalannya in­dus­tri penyiaran. Padahal, sudah se­yog­yanya KPI kembali bersifat inde­pen­den dan progresif dalam menentu­kan, mana tayangan yang layak dan tak layak untuk dikonsumsi pemirsa ta­nah air.
Sebab, rezim yang kita hadapi ini ti­daklah memaksakan kehendaknya me­lalui kekuatan impresif dengan me­manfaatkan aparatur negara. Melain­kan, dengan cara yang seolah de­mo­kratis lewat pembentukan pu­blic opinion (opini publik).
Mendamba TV yang Netral
Relasi antara televisi dan masya­ra­kat lokal bukan lagi seka­dar hubu­ngan media massa dan publik. Tetapi su­dah menjadi hubungan antara pro­dusen dan konsumen, atau sebagai co­rong politik kepada para pendukung­nya.
Tampaknya, pemilihan NET seba­gai stasiun yang me­nyiarkan Debat Pil­gub DKI session 2, karena melihat te­levisi ini sebagai salah satu dari se­kian banyak televisi yang netral da­lam porsi pemberitaan setiap paslon. Perlu didukung!
Sebab media sebagai sebuah lem­baga memiliki kewajiban untuk menyajikan program yang well infor­ma­ti­on kepada publik. Artinya, ma­syarakat harus memiliki informasi yang memadai dalam menentukan pi­lihannya nanti. Jadi, media massa ber­tanggung jawab memberikan infor­masi tentang para Paslon (pasangan calon) dari sisi yang paling objektif.
No-Gosip
Selain itu, pemberitaan seputar infotainment berbau sensa­sional dan merujuk kepada perilaku hidup yang tidak baik, seperti: gaya hidup yang hedonis, dramatisasi kehidupan, dan pesan-pesan yang tidak baik lainnya. Sudah sepatutnya tidak lagi menda­pat­kan tempat di hati pemirsa, yang haus akan hiburan. Maka pemilihan terhadap tayangan hiburan yang no-gosip dapat menjadi alternatif.
Semoga hal semacam ini dapat me­redam media sebagai sarana pe­nyebar informasi menjadi sarang jual-beli, yang tak lagi memerhatikan kua­litas sajiannya.
Masyarakat kita juga harus dilatih res­ponsif, agar hiburan­nya tak diang­gap dangkal dan murah oleh para produsen media.

Walhasil, masyarakat selain dari­pada memiliki hak untuk memperoleh in­formasi dan hiburan. Mereka juga me­miliki tanggung jawab untuk me­ngonsumsinya secara kritis, bukan menelannya secara mentah-mentah. ***
Share:

Minggu, 07 Mei 2017

Rumah Uya

Sebut saja nama acaranya Rumah Uya. Acara alay yang alay ini sebenarnya telah salah langkah ketika menghadirkan acaranya dalam bentuk live.

Acara ini menyelesaikan permasalahan siapapun yang datang ke acara itu, pastilah semuanya berhubungan dengan percintaan.

Jadi, alurnya adalah seseorang mendaftar entah dengan cara apa---mengirimkan rincian kisah lewat email---lalu mereka dipanggil oleh kreatif acara dan taraaa ... acara dimulai.

Mereka menjalankan acara ini dengan mode 'taping', artinya syuting dilakukan tempo hari dan sudah lewat proses 'editing' baru ditayangkan.

Dengan mode tayang seperti itu, setiap selesai syuting, orang yang diselesaikan masalahnya akan ditanya apakah mau ini ditayangkan atau tidak.

Bukan cuma orang yang diselesaikan masalahnya, orang yang juga terlibat akan diminta persetujuannya untuk menayangkan acara ini atau tidak.

Itu saat 'taping'. Beberapa minggu setelahnya mereka memutuskan untuk menayangkan acara ini dalam bentuk 'live'. Srreeett! Runtuhlah susunan acara ini.

Dengan ditayangkan 'live', tidak ada lagi unsur meminta persetujuan ini layak tayang atau tidak.

"Pastilah mereka memintanya sebelum acara."
Tidak, Kawan. Mereka tidak bisa melakukan itu. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi saat acara itu berlangsung? Aib terbongkar? Rahasia genting?

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa ditayangkan 'live'? Bisa tebak jawabannya?

Acara itu settingan. Selesai sudah permasalahan.


Acara itu tentunya sudah diatur sedemikian rupa. Semuanya bohongan. Skenario buatan, pemain drama amatiran, dan semua hal yang memperburuk keadaan televisi Indonesia.

Yap! Ini hanya pandangan amatir. Hanya saja, sepertinya Ini benar.
Share:

Sabtu, 06 Mei 2017

Menilik Teleseri NET

Selamat siang semuanya! Hari ini, ada yang baru di temen nonton, ada penulis baru yang coba mewarnai hari-hari kalian dengan artikel-artikel soal acara tivi. Yap, salam kenal!
Ini artikel pertama! Masih segar.

NET punya sesuatu yang mereka sebut 'teleseri'.

Teleseri-teleseri yang ditayangkan NET, hampir semuanya berhasil di pasaran. Tentunya bukan dilihat dari berapa banyak mereka dapat piala atau tingginya 'rating' dari teleseri-teleseri itu.

Mulai dari Stereo yang mengambil genre 'teleseri musikal', Kesempurnaan Cinta yang disukai hampir oleh semua kalangan, sampai Cinta Dan Rahasia yang berkisah soal cinta segibanyak.

Di awal Stereo, penulis status ini tidak terlalu tertarik dengan suguhan ceritanya, tapi di tengah-tengah cerita, ternyata Stereo lumayan menarik. Stereo yang tayang dua kali seminggu bercerita tentang kehidupan UKM Grup Vokal di sebuah Kampus. Stereo sendiri bukan jenis teleseri seribu penonton, karena tidak semua penonton suka teleseri yang lima menit sekali nyanyi. Tentu saja, ini anggapan amatir oleh penulis status.

Iya, NET mengerti segmentasi. Beberapa acara hanya untuk beberapa penonton, beberapa acara diatur untuk masuk ke semua segmen.

Kesempurnaan Cinta beda lagi, kisah ini mengharu-biru. Teleseri yang awalnya diputar di bulan puasa ini, bercerita soal cinta, keluarga, persahabatan. Ah, teleseri ini kompleks dan setiap unsurnya bekerja dengan baik.

Seorang Ayah dua anak yang Isterinya meninggal, mesti pindah ke Jakarta untuk bekerja di kantor pusat. Ia mesti membawa serta pindah kedua anaknya dari rumah orangtuanya di Jogja. Ini mungkin ide cerita sederhana.

Ayah yang bekerja sebagai arsitek ini, memulai cerita cinta dengan anak pemilik kantor tempatnya bekerja---yang juga bekerja di kantor yang sama---dan sekaligus dengan tetangga depan rumah.

Ada banyak keseruan dalam teleseri ini, kita bisa tertawa dengan humor-humor segar berlatar perkantoran, sekaligus bisa disesakkan dengan percintaan bertegangan tinggi.

Teleseri ini sudah berjalan sampai season 2 dan bulan puasa tahun ini akan tayang season 3. Ini tayangan yang jauh lebih keren dibanding pertarungan Boy dan Anak Jalanan.

Ketiga, Cinta Dan Rahasia. Teleseri ini berkisah soal kehidupan anak muda---mahasiswa, bukan siswa---berikut percintaannya yang menggeramkan. Soal Move On, Persahabatan, Cemburu, akan kita temui dengan bahkan hanya menonton salah satu episodenya.

Iya, ini kisah cinta segibanyak yang menguras banyak emosi pembaca.

NET dalam 4 tahun perjalanannya, dapat membuat terobosan-terobosan baru di pertelevisian Indonesia yang menjemukan. Tidak perlu Panasonic Gobel Award untuk membuktikan mereka televisi masa kini yang baik, mereka hanya perlu terus berkarya, menelurkan karya-karya terbaik, memuaskan penonton dengan acara-acara yang bagus.

Sekian dan terimakasih.
Share:

Selasa, 25 Oktober 2016

Analisis Film Brave: Buruk untuk Orang Tua Baru

pesan negatif tersembunyi dalam kata-kata merida elinor dan film disney brave

Seperti yang kalian tahu aku selalu waspada terhadap film-film terbitan Disney. Banyaknya film berpesan negatif yang mereka terbitkan sejak aku kecil membuatku merasa harus ekstra hati-hati ketika sebuah film baru terbit. Saking hati-hatinya, aku rasa aku sudah bisa menyebut diriku sendiri berburuk sangka terhadap mereka. Mau bagaimana lagi, mereka menempatkan diri di posisi yang membuat mereka layak atas kecurigaan.
Share:

BTemplates.com

Pengikut