Review, rekomendasi dan kritik film bermutu.

Selasa, 25 Oktober 2016

Analisis Film Brave: Buruk untuk Orang Tua Baru

pesan negatif tersembunyi dalam kata-kata merida elinor dan film disney brave

Seperti yang kalian tahu aku selalu waspada terhadap film-film terbitan Disney. Banyaknya film berpesan negatif yang mereka terbitkan sejak aku kecil membuatku merasa harus ekstra hati-hati ketika sebuah film baru terbit. Saking hati-hatinya, aku rasa aku sudah bisa menyebut diriku sendiri berburuk sangka terhadap mereka. Mau bagaimana lagi, mereka menempatkan diri di posisi yang membuat mereka layak atas kecurigaan.


Setelah mereview pesan negatif dalam Disney Frozen yang ternyata tidak begitu jauh dari Avatar The Legeng of Korra, aku mencari-cari pesan buruk apa yang hendak mereka tanamkan dalam Inside Out dan Brave. Tapi ketahuilah untuk beberapa waktu lamanya aku gagal. Aku memang berhasil menemukan satu atau dua pesan negatif tapi itu tak cukup buruk untuk kutuliskan. Memaksakan diri menulis pesan-pesan negatif lemah seperti itu hanya akan membuat kalian melihatku sebagai paranoid. Itu sebabnya aku tidak menulis review film selama satu tahun terakhir.

Aku juga sempat berpikir tentu saja Disney tidak harus menyisipkan pesan negatif ke dalam setiap filmnya. Sebagaimana kamu tidak bisa menemukan kismis di setiap titik roti kismis, kamu juga belum tentu menemukan pesan negatif dalam film produksi sebuah perusahaan yang punya misi yang sangat negatif. Tapi aku menemukan pesan negatif itu dalam film Brave di saat-saat terakhir!


Awalnya aku mengira, film ini bercerita tentang si anak berambut merah itu tapi ternyata tidak! Ini adalah tentang ibunya. Aku baru menyadari hal ini ketika aku membaca ulasan seorang blogger yang bilang, “Beda rasanya menonton film Brave sebelum menikah dan setelah menikah!” Blogger itu bilang ia merasakan apa yang dirasakan si ibu yang berubah jadi beruang itu ketika dia memiliki seorang anak. Ia tak pernah mengerti kekhawatiran si ibu sebelum itu.

BRAVE DIBUAT UNTUK MEMPENGARUHI IBU-IBU MUDA!

Aku baru sadar bahwa penikmat cinderella, snow white dan film-film Disney dulu kini telah dewasa dan mungkin telah menikah! Brave tidak dibuat untuk mempengaruhi mereka yang masih merasa muda seperti si rambut merah tapi untuk mempengaruhi mereka yang baru saja menjadi ibu seperti si ratu!

Disney telah lelah membuat banyak film untuk mempengaruhi pikiran seseorang sejak kecil. Mereka telah lelah mempengaruhi kita agar memperjuangkan kehendak hawa nafsu, mendewakan kecantikan, mencintai pria jahat, berteman dengan siapapun baik atau buruk dan memaklumi kejahatan para penjahat. Adalah konyol jika mereka membiarkanmu tersadar dari pengaruh hipnotis mereka setelah menjadi orang tua.


Anak yang terbiasa memperjuangkan hawa nafsunya walau harus melawan orang tua karena pengaruh film-film Disney kini telah dewasa menikah dan bahkan mempunyai anak. Bagaimanapun naluri orang tua untuk melindungi anaknya sangat besar dan inilah yang Disney takutkan!

Jika anak yang telah menjadi orang tua itu akhirnya mengerti mengapa dulu orang tua mereka melarang mereka keluar malam, menyuruh mereka mengenakan jilbab dan patuh sama guru ngaji mereka, pastilah mereka akan tersadar dari pengaruh hipnotis film-film Disney terdahulu. Dan itu membuat usaha mereka selama ini sia-sia.

Bagi mereka hanya ada satu kesimpulan logis: Buat sebuah film yang membuat orang tua muda ini tetap berpaham liberal! Itulah tugas film Brave, dan oh aku baru saja ingat ketika menuliskan tulisan ini, The Croods juga! Dan harus sama-sama kita akui mereka tidak hanya berhasil menyisipkan pesannya tapi juga seperti biasa membuat sebuah film yang sangat-sangat bagus!

BAGAIMANA PENYISIPAN PESAN ITU DILAKUKAN?

Dengan cara membentuk karakter yang sangat old-style yang mendidik dengan cara-cara lama, kemudian secara perlahan menginspirasi mereka untuk berubah. Di akhir cerita mereka haruslah meninggalkan paham-paham lama mereka dan mengikuti paham baru anak muda yang lebih bebas. Peran itulah yang dimainkan si ratu dalam film Brave dan si ayah dalam film The Croods.

Untuk menetralisasi pesan negatif mereka, cara yang sama juga kugunakan waktu menulis novel Cerita Caca (berhasil atau tidaknya silakan tanya pembaca novel saya)

Dalam film Brave, si ratu pada akhirnya jadi lebih membebaskan si anak dan lewat alur cerita hal itu dapat dimengerti dan diterima semua tokoh dalam film. Lebih dari itu, kalian para penonton pun pada akhirnya membenarkan bahwa cara inilah yang sebaiknya digunakan untuk mendidik anak. Haha, kena hipnotis!

Begitulah, film-film zaman sekarang ini lebih didengar dan dipercaya dalam urusan apapun. Untuk cara mengurus anak pun orang lebih percaya kata film Brave ketimbang petunjuk Al-Qur’an atau kitab suci lainnya. Mengerikan bukan?

APA YANG TERJADI PADA ORANG TUA BARU YANG TERPENGARUH?

Silakan periksa hati kalian masing-masing! Setelah menonton film Brave dan The Croods, bagaimana kalian akan bersikap terhadap anak? Cenderung lebih membebaskan bukan? Apakah kalian akan mencontoh cara-cara lama Grug atau cara-cara Guy dan cara-cara Grug di akhir cerita?

Aku tidak bilang cara-cara lama mereka lebih bagus, Disney cenderung melebih-lebihkan dalam sisi buruk cara lama mereka dan menutup-nutupi sisi positifnya. Aku hanya ingin bilang cara mendidik yang terakhir mereka tawarkan itu benar-benar jauh dari tuntunan agama kita.

Membebaskan anak memilih apapun sementara ia belum tahu benar mana yang baik dan mana yang buruk adalah kesalahan fatal. Dan inilah salah satu tujuan utama diterbitkannya film-film Disney, yaitu agar orang tua tak lagi jadi pelindung anaknya dan penghalang bagi mereka.

Sebuah agenda besar telah dirancang untuk menghancurkan umat di dunia ketiga ini. Dan semua itu tidak bisa dilakukan tanpa menghancurkan pola pikir anak-anak generasi penerusnya. Kita sama-sama tahu menghancurkan pola pikir itu dapat dengan mudah dilakukan lewat TV, film, iklan dan media-media lainnya. Tapi tahukah kalian siapa yang melindungi pola pikir anak-anak generasi penerus itu? Jawabannya tentu saja orang tua, dan dengan film Brave dan The Croods lah yang menjadi penghalang itu disingkirkan dengan halus.


Kalaulah kalian sudah tahu agenda yang telah dirancang sejak kalian masih bayi ini, masihkah kalian tunduk pada pesan-pesan negatif yang Disney sembunyikan lewat film-film mereka? Pelajari agama kalian kembali dan didiklah anak berdasarkan petunjuk Tuhan dan Nabi kalian! Jangan biarkan diri kalian dikuasai lawan dari keduanya!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Pengikut